KOTA SERANG, JEMPARING. INFO –
7 Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hadanudin (SMH) Banten menemui Ahyadi atau yang lebih pamilier disapa Abah Yadi. Menemui dalam rangka mencari naskah kuno.
Menurut Abah Yadi sebagai pengelola Klinik Pustaka di Puri Anggrek, Kota Serang. Ujarnya sudah biasa pihaknya kedatangan tamu mahasiswa. Sebagai perawat naskah kuno tentu ia menerima ledatangan itu agar banyak generasi muda kenal naskah kuno.
Katanya apa lagi mau mempelajari. Naskah kuno yang ditulis para ulama atau cerdik pandai masa lampau penuh dengan ilmu yang baik. Kebaikan itu ada petunjuk hidup di dunia atau akhirat, pitutur hidup. Dan banyak metafor baik dalam hidup terlebih lagi untuk propesi menulis.
Diantara mahasiswa itu M. Gending Pangruat Sastra Janaloka, Padhil, Muzaki, Benta dan lain. Para mahasiswa itu semester 4 jurusan Sejarah Peradaban Islam (PSI).
‘Saya berharap mereka mecintai naskah-naskah kuno. Dengan demikian mereka nanti diharapkan mau menjaga dan merawat naskah-naskah kuno yang langka dan tak ternilai itu,” tutur Abah Yadi.*** (gending janaloka)
7 Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hadanudin (SMH) Banten menemui Ahyadi atau yang lebih pamilier disapa Abah Yadi. Menemui dalam rangka mencari naskah kuno.
Menurut Abah Yadi sebagai pengelola Klinik Pustaka di Puri Anggrek, Kota Serang. Ujarnya sudah biasa pihaknya kedatangan tamu mahasiswa. Sebagai perawat naskah kuno tentu ia menerima ledatangan itu agar banyak generasi muda kenal naskah kuno.
Katanya apa lagi mau mempelajari. Naskah kuno yang ditulis para ulama atau cerdik pandai masa lampau penuh dengan ilmu yang baik. Kebaikan itu ada petunjuk hidup di dunia atau akhirat, pitutur hidup. Dan banyak metafor baik dalam hidup terlebih lagi untuk propesi menulis.
Diantara mahasiswa itu M. Gending Pangruat Sastra Janaloka, Padhil, Muzaki, Benta dan lain. Para mahasiswa itu semester 4 jurusan Sejarah Peradaban Islam (PSI).
‘Saya berharap mereka mecintai naskah-naskah kuno. Dengan demikian mereka nanti diharapkan mau menjaga dan merawat naskah-naskah kuno yang langka dan tak ternilai itu,” tutur Abah Yadi.*** (gending janaloka)

