Orang berbondong-bondang ingin cium tangan citraksi. Karena Citraksi dianggap dianggap seorang dari keturunan orang suci, pembawa ajaran Tuhan. Terlebih gaya dan bicaranya berdasar dari kitab suci.
Sehingga orang-orang bila Citraksi datang rela bersusah-susah untuk mendekat dan mengejarnya. Tidak cuma cium tangan bila tidak mendapat kesempatan cium telapak kaki Citraksi juga dilakukan. Orang-orang mengelu-elukan kemulyaan Citraksi.
Citraksi waktu itu ceramah, dalam undangan pada sebuah hari besar keagamaan. Citraksi ceramahnya dari A sampai Z memuji-muji leluhurnya saja. Mengatakan pelbagai kelebihan secara goib yang tidak bisa diterima nalar manusia. Namun orang-orang tetap percaya.
Setelah itu pulang Citraksi senyum-senyum. Udah dapat sanjungan dapat duit lagi. Karena banyak pecintanya memberi uang kepadanya.
“Enak sekali jadi orang gilai ya,” katanya pada Citraksa.
“Ya itulah, mereka gak cuma mengelu-elukan kita. Tapi mereka demi kita nyawanyapun mereka serahkan. Dianggapnya kita bisa membela dosanya dihadapan Tuhan,” ujar Citraksa agak kecut.
“Jadi bagaimana menurut kamu. Apakah ini keberuntungan atau pembohongan,”
“Ya dua-duanya, keberuntungan sekali gus pembohongan. Kita untung namun rugi membohongi diri sendiri,”
“Maksudnya,” desak Citraksi.
“Apa yang Kangmas Citraksi ucapan yang halu-halu, sampeyan tidak merasa bersalah,”
“Tentu, wong itu cuma ngibul saja, biar mereka tambah percaya,”
“Ckckck, sadisnya kita ini, cari makan perut sejengkal saja sampai begitu,”
“Hahaha, ngomong apa, sekarang zaman penuh tipudaya. Untung kita punya panutan dan leluhur dipuja-puja orang. Akhir terimbas pada kita,” ujar Citraksi.
Mereka tanpa risih lagi karena kebiasaan tangannya dicium orang banyak. Sehingga kalau tidak ada yang mencium mereka gelisah. Satu saat menghadiri acara besar Citraksi mendapat undangan untuk ceramah. Tangan Citraksi dibalur minyak wangi yang langka kewangiannya. Sehingga diharapkan sampai orang yang mencium tangannya disangka asli wanginya tangan itu sendiri. Karena cucunya orang panutan mereka.***
(Esai: ibnu ps megananda)
Sehingga orang-orang bila Citraksi datang rela bersusah-susah untuk mendekat dan mengejarnya. Tidak cuma cium tangan bila tidak mendapat kesempatan cium telapak kaki Citraksi juga dilakukan. Orang-orang mengelu-elukan kemulyaan Citraksi.
Citraksi waktu itu ceramah, dalam undangan pada sebuah hari besar keagamaan. Citraksi ceramahnya dari A sampai Z memuji-muji leluhurnya saja. Mengatakan pelbagai kelebihan secara goib yang tidak bisa diterima nalar manusia. Namun orang-orang tetap percaya.
Setelah itu pulang Citraksi senyum-senyum. Udah dapat sanjungan dapat duit lagi. Karena banyak pecintanya memberi uang kepadanya.
“Enak sekali jadi orang gilai ya,” katanya pada Citraksa.
“Ya itulah, mereka gak cuma mengelu-elukan kita. Tapi mereka demi kita nyawanyapun mereka serahkan. Dianggapnya kita bisa membela dosanya dihadapan Tuhan,” ujar Citraksa agak kecut.
“Jadi bagaimana menurut kamu. Apakah ini keberuntungan atau pembohongan,”
“Ya dua-duanya, keberuntungan sekali gus pembohongan. Kita untung namun rugi membohongi diri sendiri,”
“Maksudnya,” desak Citraksi.
“Apa yang Kangmas Citraksi ucapan yang halu-halu, sampeyan tidak merasa bersalah,”
“Tentu, wong itu cuma ngibul saja, biar mereka tambah percaya,”
“Ckckck, sadisnya kita ini, cari makan perut sejengkal saja sampai begitu,”
“Hahaha, ngomong apa, sekarang zaman penuh tipudaya. Untung kita punya panutan dan leluhur dipuja-puja orang. Akhir terimbas pada kita,” ujar Citraksi.
Mereka tanpa risih lagi karena kebiasaan tangannya dicium orang banyak. Sehingga kalau tidak ada yang mencium mereka gelisah. Satu saat menghadiri acara besar Citraksi mendapat undangan untuk ceramah. Tangan Citraksi dibalur minyak wangi yang langka kewangiannya. Sehingga diharapkan sampai orang yang mencium tangannya disangka asli wanginya tangan itu sendiri. Karena cucunya orang panutan mereka.***
(Esai: ibnu ps megananda)
