Lha Citraksi mau lagi nyalon walikota sebagai Patahana (Incumbent). Katanya melanjutkan 2 priode. Artinya kalau cuma 1 priode gak puas sebab memang negeri Hastinapura peraturannya bisa sampai 2 priode untuk jadi pemimpin pemerintahan yang dipilih.
Citraksi agak gamang karena ada seorang penyair mengatakan, “Pak Citraksi bila Anda menang dalam 2 priode ini itu tidak hebat. Orang memaklumkan karena Anda sudah punya modal. Yang paling besar dari sebelumnya diantara modal uang, modal jaringan. Jaringan diberbagai elemen masyarakat.
Namun bila Anda kalah dalam 2 priode ini sangat malu sekali. Artinya Anda tidak bisa memamfaatkan keadaan saat Anda berkuasa. Nanti kalau Anda kalah jangan menyalahkan tim sukses. Karena juga orang-orang yang mau jadi tim sukses bisa dipastikankan berbeda-beda keinginannya.
Dan kekalahan itu menunjukkan Anda tidak bekerja dengan baik saat menjabat di priode pertama. Sehingga kekalahan itu menjadi jawaban kongkrit sungguh berpihak dan tidaknya Anda dalam membangun kemajuan diwilayah kekuasaan Anda”.
Kegamangan untuk nyalon lagi manusiawi. Dan terjadinya ulur tarik dorongan dan larangan terjadi. Pertimbangan dalam benaknya dipilih dipilah seakurat mungkin. Dislusi-diskusi dengan keluarga dekat dan dengan yang lain selalu dilakukan.
Keinginan langgengnya untuk bisa berkuasa itu juga manusiawi. Sebab kekuasaan itu memang sangat menggoda sekali. Para pasangan calon pemimpin tentu saling membuat strategi jitu untuk teŕsungkurkan lawannya.
Baleho-baleho dipasang dengan kata-kata memikat, adalah bentuk amunisi serangan batin. Citraksi tidak kendor merasa warga sudah kenal dirinya. Sebagai tokoh yang bukan tiban, bukan karbitan, bukan dadakan ada. Citraksi punya percaýa diri ia akan menang lagi.
“Jangan jumawa Kakang mas, sebab kita tidak tahu strategi lawan. Pada perang di kurusetra pemilu kemungkinan bisa terjadi. Ayo dimulai dengan pemikiran yang dalam. Jangan lengah karena lawan tahu kita. Untuk menang tipis saja kita masih kehilangan muka,” nasehat Citraksa pada Citraksi.
“Iya benar…,” jawab Citraksi dengan menghela napas panjang.***
(Esai, Ibnu PS Megananda)
Citraksi agak gamang karena ada seorang penyair mengatakan, “Pak Citraksi bila Anda menang dalam 2 priode ini itu tidak hebat. Orang memaklumkan karena Anda sudah punya modal. Yang paling besar dari sebelumnya diantara modal uang, modal jaringan. Jaringan diberbagai elemen masyarakat.
Namun bila Anda kalah dalam 2 priode ini sangat malu sekali. Artinya Anda tidak bisa memamfaatkan keadaan saat Anda berkuasa. Nanti kalau Anda kalah jangan menyalahkan tim sukses. Karena juga orang-orang yang mau jadi tim sukses bisa dipastikankan berbeda-beda keinginannya.
Dan kekalahan itu menunjukkan Anda tidak bekerja dengan baik saat menjabat di priode pertama. Sehingga kekalahan itu menjadi jawaban kongkrit sungguh berpihak dan tidaknya Anda dalam membangun kemajuan diwilayah kekuasaan Anda”.
Kegamangan untuk nyalon lagi manusiawi. Dan terjadinya ulur tarik dorongan dan larangan terjadi. Pertimbangan dalam benaknya dipilih dipilah seakurat mungkin. Dislusi-diskusi dengan keluarga dekat dan dengan yang lain selalu dilakukan.
Keinginan langgengnya untuk bisa berkuasa itu juga manusiawi. Sebab kekuasaan itu memang sangat menggoda sekali. Para pasangan calon pemimpin tentu saling membuat strategi jitu untuk teŕsungkurkan lawannya.
Baleho-baleho dipasang dengan kata-kata memikat, adalah bentuk amunisi serangan batin. Citraksi tidak kendor merasa warga sudah kenal dirinya. Sebagai tokoh yang bukan tiban, bukan karbitan, bukan dadakan ada. Citraksi punya percaýa diri ia akan menang lagi.
“Jangan jumawa Kakang mas, sebab kita tidak tahu strategi lawan. Pada perang di kurusetra pemilu kemungkinan bisa terjadi. Ayo dimulai dengan pemikiran yang dalam. Jangan lengah karena lawan tahu kita. Untuk menang tipis saja kita masih kehilangan muka,” nasehat Citraksa pada Citraksi.
“Iya benar…,” jawab Citraksi dengan menghela napas panjang.***
(Esai, Ibnu PS Megananda)
