Author: ibnu

  • BAZNAS TERUS UPAYA DITINGKATKAN

      modul: a; ?hw-remosaic: 0; ?touch: (-1.0, -1.0); ?modeInfo: ; ?sceneMode: NightHDR; ?cct_value: 0; ?AI_Scene: (-1, -1); ?aec_lux: 81.0; ?hist255: 0.0; ?hist252~255: 0.0; ?hist0~25: 0.0; ?

    BANTEN, JEMPARING. INFO –
    Menurut Ketua BAZNAS Provinsi Banten saat ini dijabat oleh Prof. H. Wawan Wahyuddin, M.Pd, Badan Amil Zakat tidak boleh staknan harus terus bergerak mencari potensi yang ada.

    Hal tersebut diutatakan baru-baru ini pada jemparing.info (Jifo) di kantor Baznas, Banten, Kota Serang. Menurutnya, mencari sumber menjadi sasaran dipelbagai lembaga yang ada. Bahkan lembaga-lembaga yang bergerak di laut atau udara.

    Menurutnya juga bukan tidak mungkin pada Organisasi Masyarakat (Ormas) yang ada. Yang memangbpunya potensi untuk bisa beri zakat. Dalam peningkatan potensi itu memang diperlukan strategi dan keuletan.

    “Peningkatan zakat terus dilakukan, karena zakat itu sangat membatu berbagai hal, untuk pendidikan, kemiskinan dan sebagainya,” tuturnya. ***(oka/ibnu)

    *******************************************************
    Redaksi.
    Pimred dan Redaktur : Ibnu Purwanto SM
    Wartawan : Raden Dodi Budiana, (koordinator Serang, Cilegon), M.Gending PS Janaloka, Miyono (Serang), Martin (Merak, Cilegon), Agustus Kanifan (Serang-Cilegon), Abdi Waluyo, Bintang (Sergai), Fangki Suwito (Kota Medan), Fauzi Aldino (koordinator Simalungun/P.Siantar), Salimun, Ponidi (Simalungun/P.Siantar), Suwarno Hady (Kepala koordinator wartawan, Sumut), Rully Herdiansyah (wartawan budaya)


    (Wartawan jemparing.info dilarang meminta terkait berita/tulisan)
    *******************************************************

  • Makna Hari Kebangkitan Nasional 2026 bagi Generasi Muda: Belajar dari Perjuangan Ibrahim dan Ismail


    Lebih dari seabad lalu, tepatnya 20 Mei 1908, ruang-ruang kelas STOVIA menjadi saksi lahirnya sebuah fajar baru bagi bangsa ini. Sekelompok pemuda terpelajar berkumpul, bukan untuk meratakan nasib sebagai bangsa taklukan, melainkan untuk menyebarkan sebuah gagasan yang saat itu terdengar mustahil: kemerdekaan sebuah bangsa yang bahkan belum memiliki nama formal. Berdirinya Boedi Oetomo menandai pergeseran fundamental dalam sejarah kita; dari perjuangan fisik kedaerahan menuju pergerakan modern yang berbasis pada ketajaman gagasan, penguatan literasi, dan kerapian organisasi. Mereka memahami sebuah prinsip dasar: sebelum kesadaran fisik direbut, kesadaran berpikir harus dikobarkan terlebih dahulu.

    Tantangan Baru Generasi Muda di Ruang Digital

    Hari ini, di tahun 2026, generasi muda berdiri di ruang waktu yang berbeda namun dengan esensi tantangan yang serupa. Penetrasi global tidak lagi datang membawa armada militer, melainkan menyusup halus lewat layar kaca di genggaman—berwujud hegemoni algoritma media sosial, gangguan kecerdasan buatan, banjir informasi yang mendangkalkan logika, serta tren instan yang perlahan mengikis ikatan identitas lokal. Di tengah riuh rendah dunia yang tanpa sekat ini, makna Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) bagi generasi muda perlu maknai lagi secara jernih, melampaui hanya seremoni tahun

    Jika kita bedah lebih dalam, dorongan nadi pergerakan pemuda tahun 1908 sebenarnya memiliki benang merah yang kuat dengan nilai-nilai universal dalam sejarah teologi kemanusiaan: ibrah (pelajaran) dari perjuangan Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan seterusnya, Nabi Ismail Alaihis Salam. Dari rekonstruksi kisah dua perintis peradaban ini, generasi muda hari ini dapat memetik dua modal berharga: wawasan berpikir dan keteguhan komitmen.

    Nalar Kritis Nabi Ibrahim: Menyaring Arus Zaman

    Dalam catatan sejarah Al-Qur’an, Nabi Ibrahim AS adalah prototipe pemuda (Fatan) yang mengedepankan rasionalitas dan kemandirian berpikir (QS. Al-Anbiya: 60). Hidup di tengah lingkungan yang mengalami stagnasi intelektual di bawah kekuasaan Raja Namrud, ia menolak ikut arus dalam penyembahan berhala zaman. Melalui metode observasi kritis dan keberanian bertanya yang terekam dalam Surat Al-An’am ayat 74-79, Nabi Ibrahim menggunakan nalar sehatnya untuk menguji validitas kenyataan di sekitarnya sebelum akhirnya mengambil langkah perubahan.

    Bagi generasi muda di era disrupsi digital saat ini, tantangan “berhala” zaman telah bermutasi menjadi budaya serba instan yang menumpulkan daya analisis, mentalitas minder di hadapan narasi asing, serta kecenderungan menelan mentah-mentah tren global tanpa filter literasi. Bangkit dalam konteks modern berarti mereplikasi kemandirian berpikir Nabi Ibrahim muda. Ini adalah tentang kemampuan menyaring informasi, menguasai teknologi secara bijak, dan memosisikan diri sebagai inovator yang mewarnai dunia, bukan sekadar menjadi konsumen pasif di pasar global.

    Jiwa Nabi Ismail: Meluluhkan Ego Demi Visi Bersama

    Ketangguhan intelektual itu kemudian menemukan bentuk eksekusinya pada lapis generasi berikutnya, yakni Nabi Ismail AS. Sering kali kita luput membaca ruang dialog yang terjadi sebelum peristiwa besar ujian pengorbanan itu dilaksanakan. Nabi Ibrahim tidak memaksakan perintah secara sepihak, melainkan membuka ruang diskusi yang sangat demokratis dan setara dengan anaknya: “Maka berpikirlah, bagaimana pendapatmu?” (QS. As-Saffat : 102).

    Respons Nabi Ismail adalah potret kematangan jiwa seorang muda yang melampaui usianya. Melalui kesadaran penuh dan ketaatan kepada syariat, ia memahami adanya visi jangka panjang yang lebih besar dari kenyamanan pribadinya. Ia bersedia meredam ego dan kepentingan jangka pendek demi sebuah cetak biru masa depan yang lebih agung.

    Watak Nabi Ismail inilah yang secara sosiologis tereplikasi pada momentum tahun 1908 dan 1928 di Indonesia. Para pemuda kala itu—yang dipisahkan oleh sekat suku, bahasa, dan ego kedaerahan—memilih untuk meluluhkan ego partikular tersebut demi melahirkan entitas kolektif bernama Indonesia. Di era modern yang cenderung individualistis ini, relevansi mentalitas Nabi Ismail menjadi sangat krusial. Meredam ego di abad ke-21 adalah tentang bagaimana menyinergikan potensi pribadi ke dalam kolaborasi lintas disiplin demi memecahkan masalah nyata di masyarakat, seperti tantangan literasi dan pandangan ruang digital.

    Memancarkan Mata Air Solusi dari Keterbatasan

    Secara historis, Nabi Ismail kecil Ditempatkan di Lembah Makkah—sebuah wilayah yang dalam Al-Qur’an digambarkan gersang dan tidak mempunyai tanam-tanaman (QS. Ibrahim: 37). Secara perhitungan logistik manusia pada masa itu, tempat tersebut tidak menjanjikan masa depan bagi pertumbuhan sebuah peradaban. Namun, narasi sejarah yang sahih membuktikan bahwa melalui kedisiplinan ikhtiar ibundanya, Siti Hajar, serta hentakan kaki Nabi Ismail kecil, dari tanah tersebut justru memancar mata air Zamzam (HR. Bukhari). Air yang kemudian mengubah padang pasir yang sunyi menjadi pusat pertumbuhan peradaban dunia yang bertahan sepanjang zaman.

    Kondisi pembangunan, kualitas pendidikan, dan kemandirian teknologi di Indonesia saat ini tentu masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Namun, sejarah pergerakan bangsa mengajarkan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah alasan untuk bersikap pasif. Generasi muda hari ini adalah penentu arah masa depan. Di mana pun mereka berkiprah—baik di pusat penelitian global maupun di pemberdayaan komunitas lokal—kerja kreatif, tulisan, dan inovasi yang dihasilkan harus mampu berfungsi sebagai “mata air” solusi atas permasalahan riil di sekitar mereka.

    Menancapkan Akar Identitas, Menjemput Masa Depan
    Kebangkitan Nasional di era global bukanlah sebuah gerakan isolasionisme yang anti terhadap modernitas luar. Ini adalah tentang kekuatan akar identitas. Semakin dalam generasi muda menancapkan pemahaman mereka pada akar sejarah dan nilai luhur bangsanya, semakin tinggi mereka dapat unggul dalam kompetisi global tanpa perlu khawatir kehilangan arah badai akibat gangguan.

    Pada momentum Harkitnas tahun 2026 ini, masyarakat membutuhkan generasi lahirnya yang mampu memadukan dua pilar karakter tersebut: ketajaman berpikir yang visioner sekelas Nabi Ibrahim, serta ketangguhan mental dan komitmen eksekusi sekelas Nabi Ismail. Ketika mempelajari sejarah pergerakan nasional tahun 1908 berpadu secara harmonis dengan kedalaman nilai universal, maka arah langkah generasi muda Indonesia dalam membangun bangsa yang berdaulat akan menjadi lebih terukur, kokoh, dan abadi.*** (Oleh Prof. Wawan Wahyuddin)

    Selamat Hari Kebangkitan Nasional.







    *******************************************************
    Redaksi.
    Pimred dan Redaktur : Ibnu Purwanto SM
    Wartawan : Raden Dodi Budiana, (koordinator Serang, Cilegon), M.Gending PS Janaloka, Miyono (Serang), Martin (Merak, Cilegon), Agustus Kanifan (Serang-Cilegon), Abdi Waluyo, Bintang (Sergai), Fangki Suwito (Kota Medan), Fauzi Aldino (koordinator Simalungun/P.Siantar), Salimun, Ponidi (Simalungun/P.Siantar), Suwarno Hady (Kepala koordinator wartawan, Sumut), Rully Herdiansyah (wartawan budaya)


    (Wartawan jemparing.info dilarang meminta terkait berita/tulisan)
    *******************************************************

  • Sastra Puisi, Ibnu PS Megananda

    1. TAKUT
      Orang-orang hebat hindari kecendrungan tidak butuh uluk salam pada yang tidak hebat
      Jangankan orang per orang, ditempat orang-orang hebat saja yang tidak hebat merasa jadi hebat
      Ternyata hal tempat saja bisa seperti di kebun binatang
      Kancil saja yang kandang bersebelahan kandang harimau bisa merasa seperti harimau,
      Dan orang-orang hebat itu kalau kesufiannya tidak ada ia sangat menanti pujian
      Menanti tepuk tangan, lalu menginginkan singgasana kursi kehabatannya abadi
      Lebih lagi tidak ingin yang tidak hebat menjadi hebat
      Malah bisa jadi tidak ingin bicara sedikitpun pada yang tidak hebat karena takut menjadi hebat
      Ini yang aku takutkan
      Takut merasa habat
      Ya Tuhanku, karuniai aku jiwa kesufian itu.
      ***
      Tegalkembang, 2026



      ESTETIKA KOTA
      Lelaki kerempeng itu membawa barang bawaannya dari ia mulung
      Dalam jalan menyelusuri toko diperkotaan ia bagai tidur dan bermimpi
      Dalam mimpi ia makan disebuah restouran pakai lauk ati dam ampela kesukaannya
      Perutnya terasa kenyang ia bergegas ninggalkan restouran
      Belum sampai dua menit ia ditangkap keamanan kota
      Katanya ia merusak keindahan dan kenyamanan kota
      Ia dituduh mengganggu estetika kota, harus tanggungjawab pada perbuatannya

      Sementara perutnya yang kenyang tadi dari lamunan bagai mimpi
      Dan perutnya berganti terasa sangat lapar diantara pandangan wajah-wajah kasar
      Hatinya bagai dirudapaksa oleh ketertiban kota yang membuatnya kecewa
      ***
      Tegalkembang, 2026