Oleh, Ibnu PS Megananda
Sudah menjadi tradisi kalau sudah mendekati Pemilu, baik legeslatif atau esekutif sana-sini ada janji-janji. Yang ikut mendukung saling serang, dari pelbagai sisi untuk kemenangan.
Yang aneh dulu lawan sekarang kawan, juga sebaliknya. Sedang Pilres semakin dekat. Masing-masing pendukung mengunggulkan calonnya. Pendukung dikelompok tertentu sebagai tim sukses tentu punya motivasi atau harapan.
Dan dikalangan umum, tinggal sejauh mana diri calon yang diketahui. Itupun kadang didorong panatisme idiologi atau keagamaan. Sehingga bila ada calon yang profilnya keagamaan dianggap itu yang paling baik.
Hal itu diingatkan pada filsuf abad 12 di Cardova, Ibnu Rusyd dengan kata-katanya, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama”. Filusuf yang dijuluki “Averrois”, membuka mata akan perpolitikan identitas dewasa ini.
Belahan dunia terbagi beberapa politik kuat antaranya barat (Amerika dan Eropa), Rusia, China yang diangga berhaluan komunis. Kelompok besar itu tentu berkepentingan pada Indonesia.
Kelompok besar itu berebut pengaruh dengan pelbagai cara. Untung Indonesia mempunyai sikap politik yang kuat dengan idiologi filsafah Pancasila, politik bebas aktiv. Sehingga kekuatan-kekuatan besar dunia itu tidak mudah diambil bagian dari mereka.
Kekuatan besar itu biasanya masuk dinegara lain diantaranya saat Pemilu. Mereka mengintip calon pemimpin yang maju. Bila perlu mereka upayakan secara terselubung calon yang bisa masuk untuk kepentingannya.
Mereka bisa membuat tiologi sekte tertentu sebagai tangannya agar bisa masuk dan diterima warga mayoritas agama tertentu. Dengan tangan lembaga politik yaitu partai untuk memperkuat sekte, untuk meluluskan keinginannya.
Sebagai bangsa berdaulat tentu perlu mengijinkan dan tidaknya partai yang lahir. Apakah bertentangan dengan filsafah bangsakah atau tidak. Kewaspadaan pada politik sangat perlu. Karena dari situlah kepentingan misi-visi politik partai tertentu masuk.
Dan filsuf Ibnu Rusyd telah memperingatkan bangsa-bangsa dalam percaturan politik. Ada kekuatan pengaruh karena agama tertentu. Dan masyarakat bangsa diminta untuk cerdas tidak bodoh yang dikatakan Sang Filsuf itu.***
(Penulis, penyair budayawan)
ECOSYSTEM
Positive growth.
Nature, in the common sense, refers to essences unchanged by man; space, the air, the river, the leaf. Art is applied to the mixture of his will with the same things, as in a house, a canal, a statue, a picture.
But his operations taken together are so insignificant, a little chipping, baking, patching, and washing, that in an impression so grand as that of the world on the human mind, they do not vary the result.



Undoubtedly we have no questions to ask which are unanswerable. We must trust the perfection of the creation so far, as to believe that whatever curiosity the order of things has awakened in our minds, the order of things can satisfy. Every man’s condition is a solution in hieroglyphic to those inquiries he would put.

White Irises
Ogawa Kazumasa
Cherry Blossom
Ogawa Kazumasa


