“Lho, lho, lho, kok banyak sekali baleho bakal calon (balon) walikota, bupati sampai gubernur,” dibenak Mang Nriman.
Ia pun melajukan sepeda motor bobonnya dijalanan Kota Tirtatinalang. Mata bagai kelilipan baleho banyak yang ingin balon pemimpin daerah. Ada Citraksi, ada Citraksa, ada Durmagati dan banyak lainnya.
Disebuah warung kopi Mang Nriman bertemu Mang Solehan. Mereka ngobrol tentang kerjanya siang itu, dan sampai ngobrol tentang balon pemimpin daerah.
“Masih lama pemilu kok hari gini sudah bertebaran baleho balon pemimpin ya, kata Mang Nriman.
“Biasalah curi star,” jawab Mang Solehon.
“Bukan curi star, tapi memang tidak ada aturannya tentang waktu tertentu bila masang baleho,” kata Mang Nriman.
” Oo…begitu ya, akhirnya begini ya, pinggir dan simpang jalanan kota dipenuhi baleho,” ujar Solehan. ” Lihat itu Citraksi, Citraksa, Durmagati dan lainnya dah pada bertengger,” sambung Mang Solehan.
” Mereka itu para sultan. Orang daerah yang banyak picisnya,” kata Mang Nriman.
” Jadi sultan itu bukan keturunan sultan beneran ya,”
” Sultan itu cuma istilah bagi orang yang banyak duitnya,” ujar Mang Nriman. ” Tapi mereka memang ada yang anaknya, saudaranya orang yang pernah memimpin di Provinsi Tirtatinalang ini,” sambungnya.
“Ya kemarin Citraksi datang di kampungku. Citraksi bicara katanya kalau ia jadi bupati akan bangun semua infrastruktur pertanian. Dan sekolah akan gratis tis, pokoknya anak orang tidak mampu nanti tidak ada yang tidak sekolah,” ujar Mang Solehan menyampaikan omongan Citraksi.
” Heleh…mbel gedes…,” jawab Nriman, sengit. ” Semua ya ngomongnya seperti itu, empuk kayak tahu,” sambungnya lagi.
Citraksi, Citraksa, Durmagi semakin gencar memasang baleho. Dalam lembaran baleho ada tulisan-tulisan janji kemajuan. Pokoknya tidak ada yang tidak maju. Pokoknya tidak ada yang tidak menyenangkan.
Citraksi berpakaian rapi pakai peci pagi itu disebuah daerah yang ia anggap lumbung suaranya tipis baginya. Maka ia menguatkan warga untuk percaya pada dirinya.
” Ibu, ibu, bapak, bapak, saya kalau terpilih bukan orang baru dipemerintahan. Aku sudah pernah jadi pemimpin, bukan seperti mereka yang belum pernah. Mereka belum berpengalaman,” kata Citraksi.
” Pengalaman korupsi ya,” kata lirih seseorang disamping Mang Nriman.
” Heh…jangan begitu balehonya juga kamu pasang,” senggah Mang Nriman.
“Masang baleho kan diupahi lho mang. Kalau gak diupahi ya males. Malah katanya disiruh masang dipuncak bukit sana. Katanya biar semua melihat Citraksi akan nyalon jadi bupati. Begitu pula Citraksa dan Durmagati juga nyuruh masang balehonya di pucuk pohon kelapa,” tutur orang tetsebut.
” Wah, wah, wah, sepektakuler sakali !,” sahut Mang Nriman dengan keningnya berkerut.***
(Esai: ibnu ps megananda)
Ia pun melajukan sepeda motor bobonnya dijalanan Kota Tirtatinalang. Mata bagai kelilipan baleho banyak yang ingin balon pemimpin daerah. Ada Citraksi, ada Citraksa, ada Durmagati dan banyak lainnya.
Disebuah warung kopi Mang Nriman bertemu Mang Solehan. Mereka ngobrol tentang kerjanya siang itu, dan sampai ngobrol tentang balon pemimpin daerah.
“Masih lama pemilu kok hari gini sudah bertebaran baleho balon pemimpin ya, kata Mang Nriman.
“Biasalah curi star,” jawab Mang Solehon.
“Bukan curi star, tapi memang tidak ada aturannya tentang waktu tertentu bila masang baleho,” kata Mang Nriman.
” Oo…begitu ya, akhirnya begini ya, pinggir dan simpang jalanan kota dipenuhi baleho,” ujar Solehan. ” Lihat itu Citraksi, Citraksa, Durmagati dan lainnya dah pada bertengger,” sambung Mang Solehan.
” Mereka itu para sultan. Orang daerah yang banyak picisnya,” kata Mang Nriman.
” Jadi sultan itu bukan keturunan sultan beneran ya,”
” Sultan itu cuma istilah bagi orang yang banyak duitnya,” ujar Mang Nriman. ” Tapi mereka memang ada yang anaknya, saudaranya orang yang pernah memimpin di Provinsi Tirtatinalang ini,” sambungnya.
“Ya kemarin Citraksi datang di kampungku. Citraksi bicara katanya kalau ia jadi bupati akan bangun semua infrastruktur pertanian. Dan sekolah akan gratis tis, pokoknya anak orang tidak mampu nanti tidak ada yang tidak sekolah,” ujar Mang Solehan menyampaikan omongan Citraksi.
” Heleh…mbel gedes…,” jawab Nriman, sengit. ” Semua ya ngomongnya seperti itu, empuk kayak tahu,” sambungnya lagi.
Citraksi, Citraksa, Durmagi semakin gencar memasang baleho. Dalam lembaran baleho ada tulisan-tulisan janji kemajuan. Pokoknya tidak ada yang tidak maju. Pokoknya tidak ada yang tidak menyenangkan.
Citraksi berpakaian rapi pakai peci pagi itu disebuah daerah yang ia anggap lumbung suaranya tipis baginya. Maka ia menguatkan warga untuk percaya pada dirinya.
” Ibu, ibu, bapak, bapak, saya kalau terpilih bukan orang baru dipemerintahan. Aku sudah pernah jadi pemimpin, bukan seperti mereka yang belum pernah. Mereka belum berpengalaman,” kata Citraksi.
” Pengalaman korupsi ya,” kata lirih seseorang disamping Mang Nriman.
” Heh…jangan begitu balehonya juga kamu pasang,” senggah Mang Nriman.
“Masang baleho kan diupahi lho mang. Kalau gak diupahi ya males. Malah katanya disiruh masang dipuncak bukit sana. Katanya biar semua melihat Citraksi akan nyalon jadi bupati. Begitu pula Citraksa dan Durmagati juga nyuruh masang balehonya di pucuk pohon kelapa,” tutur orang tetsebut.
” Wah, wah, wah, sepektakuler sakali !,” sahut Mang Nriman dengan keningnya berkerut.***
(Esai: ibnu ps megananda)

