• HARAP PEMILU LUBER DAN SOSIALISASI RAPERDA KETENTRAMAN/ KETERTIBAN UMUM
  • Sample Page
Jemparing
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Jemparing
No Result
View All Result

SENI SEBAGAI KEKUATAN ABADI: PEMBACAAN MENDALAM PUISI “ITU PUISI” KARYA IBNU MEGANANDA

by ibnu
March 3, 2025
in Uncategorized
0
SENI SEBAGAI KEKUATAN ABADI: PEMBACAAN MENDALAM PUISI “ITU PUISI” KARYA IBNU MEGANANDA
Oleh, Rissa Churria

Puisi Itu Seni karya Ibnu Megananda merupakan refleksi mendalam tentang hakikat seni sebagai bagian dari peradaban, kehidupan, dan kebebasan berekspresi. Dalam puisinya, penyair menegaskan bahwa seni adalah sesuatu yang tak terpisahkan dari pikiran dan hati manusia, sebuah entitas yang terus hidup meskipun mendapat tekanan atau pembungkaman. Puisi ini tidak hanya mengandung perenungan filosofis, tetapi juga kritik terhadap upaya membungkam kebebasan seni yang justru berujung pada lahirnya karya-karya baru.

Seni Sebagai Esensi Kehidupan

Dalam baris pembuka, Ibnu Megananda mengajukan pertanyaan retoris yang menantang:

> “Apa mungkin kau lawan seni
seni menyatu pikiran dan hati?”

Pertanyaan ini menggambarkan seni sebagai sesuatu yang inheren dalam diri manusia. Menurut filsuf estetika John Dewey dalam bukunya Art as Experience (1934), seni bukan hanya produk yang terpisah dari kehidupan, melainkan pengalaman yang tumbuh dari interaksi manusia dengan dunia. Puisi ini sejalan dengan gagasan Dewey, di mana seni tidak dapat dipisahkan dari pikiran dan hati manusia, sehingga mustahil untuk benar-benar melawannya.

Penyair juga menekankan sifat multidimensional seni:

> “Seni bisa dilihat tak bisa diraba
seni bisa didengar sulit dilupakan.”

Dalam perspektif estetika, seni memang tidak hanya hadir dalam bentuk yang dapat disentuh secara fisik, tetapi juga sebagai pengalaman batin yang mendalam. Ini mengingatkan pada gagasan filsuf Jerman Immanuel Kant dalam Critique of Judgment (1790), bahwa seni memiliki daya transendental yang melampaui persepsi indrawi dan merangsang pemikiran serta emosi manusia.

Seni Sebagai Pembangun Peradaban

Puisi ini juga menggarisbawahi peran seni dalam perkembangan masyarakat:

> “Seni hadir untuk ingatkan yang terlena
dan membangun kedaulatan masa depan
seni menyongsong peradaban maju
seni pengingat peradaban kolot.”

Dalam konteks sejarah, seni sering kali menjadi katalis perubahan sosial. Menurut Herbert Marcuse dalam The Aesthetic Dimension (1978), seni memiliki potensi subversif yang dapat mengganggu status quo dan membangkitkan kesadaran kritis dalam masyarakat. Seni tidak hanya mencerminkan budaya yang ada, tetapi juga mengkritisi dan mengarahkannya ke arah yang lebih maju.

Pada baris “seni pengingat peradaban kolot”, penyair menekankan bahwa seni juga memiliki peran sebagai pengingat sejarah dan alat refleksi terhadap nilai-nilai lama yang mungkin perlu diperbarui. Ini selaras dengan pandangan Terry Eagleton dalam The Ideology of the Aesthetic (1990), di mana seni dapat menjadi arena perdebatan ideologis yang mempertanyakan norma-norma tradisional.

Pembungkaman Seni: Antara Represi dan Kebangkitan

Salah satu bagian paling kuat dalam puisi ini adalah kritik terhadap upaya membungkam seni:

> “Apa mungkin kau bungkam seni
bisa dibungkam sesaat saja
esok hari malah tumbuh dengan segar dan berakar.”

Sejarah telah menunjukkan bahwa upaya menekan seni sering kali justru melahirkan karya-karya yang lebih revolusioner. Rezim otoriter yang membatasi ekspresi seni tidak benar-benar bisa menghapusnya, karena seni memiliki sifat regeneratif. Contoh nyata dapat dilihat dalam gerakan sastra dan seni bawah tanah di berbagai negara yang mengalami represi politik, seperti Sastra Lekra di Indonesia atau gerakan avant-garde di Eropa yang melawan dominasi politik dan budaya tertentu.

Penyair semakin menegaskan hal ini dengan baris berikut:

> “Pembungkaman seni malah lahir seni lagi
bisa seni yang dilihat mata
bisa seni yang dengar telinga.”

Dalam pandangan Michel Foucault, kekuasaan tidak hanya bersifat represif tetapi juga produktif. Artinya, setiap upaya menekan sesuatu justru dapat melahirkan bentuk-bentuk baru yang lebih kuat. Seni, dalam hal ini, selalu menemukan cara untuk berevolusi dan menyampaikan pesannya, meskipun dalam kondisi paling terbatas.

Puisi Itu Seni karya Ibnu Megananda menegaskan bahwa seni adalah kekuatan yang tak terhentikan. Ia menyatu dengan pikiran dan hati, membentuk peradaban, serta tetap hidup meskipun berusaha dibungkam. Dari perspektif sastra, puisi ini tidak hanya menggunakan diksi yang lugas dan metaforis, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam.

Pendapat para ahli seperti John Dewey, Immanuel Kant, Herbert Marcuse, dan Michel Foucault memperkuat bahwa seni adalah entitas yang tidak hanya estetis, tetapi juga politis dan sosial. Seni tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga berperan dalam membangun dan mengubahnya. Oleh karena itu, sebagaimana dinyatakan dalam puisi ini, usaha membungkam seni hanyalah ilusi belaka, karena seni akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup dan berkembang.

Setu, 02.03.2025
Previous Post

Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Banten

Next Post

BPKPAD kota Cilegon

Next Post
BPKPAD Kota Cilegon.

BPKPAD kota Cilegon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Sidang Gugatan Pemberhentian Sekda Kota Cilegon Maman Mauludin Makin Terang, Ada Dugaan Mal Administrasi
  • AKTIPITAS TRANSAKSI TERDITEKSI, POLRES TEBING TINGGI AMANKAN PENGEDARAN NARKOTIKA JENIS SABU-SABU
  • Bagian Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Cilegon
  • Bagian Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Cilegon
  • (no title)

Recent Comments

  1. JesusAveda on DINAS ESDM BANTEN TERIMA ROMBONGAN PENGADUAN TAMBANG LIAR
  2. 888slot freebet on BKPSDM Kota Cilegon
  3. slot365 đăng nhập on BPKPAD Kota Cilegon
  4. soltica casino on KOLAM RETENSI KP3B HINDARKAN UNTUK TEMPAT NEGATIF
  5. soltica casino on CITRAKSI ABADIKAN TRAH DENGAN MAKAM

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024
  • September 2024
  • August 2024
  • July 2024
  • June 2024
  • May 2024
  • April 2024
  • March 2024
  • February 2024
  • January 2024

Categories

  • Berita Daerah
  • Uncategorized

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.