Apa ya orang percaya kalau Citraksi mendem jero (memuliakan), yaitu memuliakan leluhurnya. Orang mencibir betapa mustahilnya bila Citraksi bersikap takzim pada orang tua, kakek dan seterusnya.
Dia bangun makam- makam leluhurnya. Untuk mengabadikan trah suku bangsanya, sebagai suku bangsa yang tetap ada di dunia. Dia hanya berpikir makam adalah persemayaman terakhir. Yang makam itu akan dilihat keturunannya ketika ingin tahu siapa leluhurnya. Betapa pentinga makam, sampai-sampai orang Yahudi Israil membuat 300 makam palsu diwilayah Palestina.
Makam palsu itu dibuat klaim bahwa leluhur Yahudi pernah ada di Palestina. Dengan demikian sah-sah saja bila Yahudi juga bisa tinggal di Palestina. Sehingga klaim nenekmoyangnya yang pernah tinggal di Palestina itu hingga sekarang terus terjadi pertikaian didaerah itu.
“Untuk apa kita membuat rumah besar dan megah dengan biaya besar. Pada akhirnya toh tidak lama kemudian kita tinggalkan,” celetuk Citraksi.
“Lantas kenapa,” sahut Citraksa.
“Kita buat saja makam orang tua kita yang kuat dan kokoh. Agar bisa dilihat tujuh keturunan dari kita. Itulah rumah abadi,” ujar Citraksi.
“Benar kang mas, coba renungkan orang tua kita baru meninggal saja sudara kita sudah ada yang rasan-rasan, rumah orang tua dijual saja, lalu duitnya dibagi saudaranya semua,” kata Citraksa.
“Edan tenan, rumah dan pekarangan orang tua baru meninggal saja sudah mau untuk dijual, bagaimana sampai cucu apa lagi cicit,” keluh Citraksi.
Mereka merenung, ada semacam ketidakwajaran tapi ada juga semacam kewajaran. Betapa direnungkan bila dijual tentu arwah orang tua, bila rumah sudah dijual merasa sedih. Rumah yang dibuat dengan jerihpayah kini ditempati orang bukan anak-anaknya.
“Aku jadi sedih kang mas, bila nanti dijual bukan arwah orang tua kita saja yang sedih. Tapi kita juga sedih bahwa di rumah itulah kita waktu kecil hingga dewasa berteduh, bersuka cita,” ujar Citraksa.
“Maka itu sesuatu didunia yang sipatnya kurang langgeng, kita buat sesuatu di dunia yang sepatnya agak panjang dan langgeng yaitu makam,” tutur Citraksi dengan matanya seakan memandang kejauhan.
“Maka wajar ya kang mas ada terdengar kelompok warga yang membuat makan-makam palsu, tentu tujuannya melanggengkan kerabat keturunanya,” sahut Citraksa.
Merekapun membangun makam orang tuanya dan kakek buyutnya. Dengan demikian Citraksi-Citraksa berpikir ia akan dilanggengkan namanya melalui makam oleh anak dan cucunya. Mereka menganggap pada yang suka ingin membongkar makam atau melarang untuk membangun makam adalah ajaran yang tujuannya tidak baik.
Diantaranya bertujuan agar orang tidak mengenang leluhurnya, tidak mengenang orang-orang mulia. Dengan demikian putus untuk berpihak pada hal-hal yang baik dari seseorang tersebut. Citraksi-Citraksa mulai paham akan arti pentingnya sebuah makam.***
(Esai, Ibnu PS Megananda)
Dia bangun makam- makam leluhurnya. Untuk mengabadikan trah suku bangsanya, sebagai suku bangsa yang tetap ada di dunia. Dia hanya berpikir makam adalah persemayaman terakhir. Yang makam itu akan dilihat keturunannya ketika ingin tahu siapa leluhurnya. Betapa pentinga makam, sampai-sampai orang Yahudi Israil membuat 300 makam palsu diwilayah Palestina.
Makam palsu itu dibuat klaim bahwa leluhur Yahudi pernah ada di Palestina. Dengan demikian sah-sah saja bila Yahudi juga bisa tinggal di Palestina. Sehingga klaim nenekmoyangnya yang pernah tinggal di Palestina itu hingga sekarang terus terjadi pertikaian didaerah itu.
“Untuk apa kita membuat rumah besar dan megah dengan biaya besar. Pada akhirnya toh tidak lama kemudian kita tinggalkan,” celetuk Citraksi.
“Lantas kenapa,” sahut Citraksa.
“Kita buat saja makam orang tua kita yang kuat dan kokoh. Agar bisa dilihat tujuh keturunan dari kita. Itulah rumah abadi,” ujar Citraksi.
“Benar kang mas, coba renungkan orang tua kita baru meninggal saja sudara kita sudah ada yang rasan-rasan, rumah orang tua dijual saja, lalu duitnya dibagi saudaranya semua,” kata Citraksa.
“Edan tenan, rumah dan pekarangan orang tua baru meninggal saja sudah mau untuk dijual, bagaimana sampai cucu apa lagi cicit,” keluh Citraksi.
Mereka merenung, ada semacam ketidakwajaran tapi ada juga semacam kewajaran. Betapa direnungkan bila dijual tentu arwah orang tua, bila rumah sudah dijual merasa sedih. Rumah yang dibuat dengan jerihpayah kini ditempati orang bukan anak-anaknya.
“Aku jadi sedih kang mas, bila nanti dijual bukan arwah orang tua kita saja yang sedih. Tapi kita juga sedih bahwa di rumah itulah kita waktu kecil hingga dewasa berteduh, bersuka cita,” ujar Citraksa.
“Maka itu sesuatu didunia yang sipatnya kurang langgeng, kita buat sesuatu di dunia yang sepatnya agak panjang dan langgeng yaitu makam,” tutur Citraksi dengan matanya seakan memandang kejauhan.
“Maka wajar ya kang mas ada terdengar kelompok warga yang membuat makan-makam palsu, tentu tujuannya melanggengkan kerabat keturunanya,” sahut Citraksa.
Merekapun membangun makam orang tuanya dan kakek buyutnya. Dengan demikian Citraksi-Citraksa berpikir ia akan dilanggengkan namanya melalui makam oleh anak dan cucunya. Mereka menganggap pada yang suka ingin membongkar makam atau melarang untuk membangun makam adalah ajaran yang tujuannya tidak baik.
Diantaranya bertujuan agar orang tidak mengenang leluhurnya, tidak mengenang orang-orang mulia. Dengan demikian putus untuk berpihak pada hal-hal yang baik dari seseorang tersebut. Citraksi-Citraksa mulai paham akan arti pentingnya sebuah makam.***
(Esai, Ibnu PS Megananda)

