Citraksi-Citraksa juga ada ditingkatan sosial. Yang ditingkatan atas dianggap wajar. Tapi yang dibawah dianggap kurang ajar. Sakitnya yang ada diposisi sosial yang dibawah.
“Aku menyenangkan kalian. Percayalah pada aku. Karena aku dilahirkan untuk mengentaskan kesusahan kalian. Dan sudah dari sononya itulah aku. Jangan gak percaya akan takdir,” ucap Citraksi kalangan atas.
“Aneh kalau kalian tidak percaya takdir hidup,” sambung Citraksa kalangan atas.
Juga Citraksi-Citraksa kalangan bawah tidak kalah, menyembur-nyembur ingin selalu dapat dan puas apa yang diinginkan. Tidak perduli menyalahi aturan bahkan tata krama sosial.
“Yang kami inginkan mesti dapat, tidak masalah apa yang terjadi nantinya. Kami ingin seperti mereka yang diatas. Mereka bersuka-ria kami juga harus bersuka-ria. Karena kesenangan dunia tidak diperolah lagi setelah tidak ada dunia ini. Karena selama ini kami hidup susah,” kata Citraksi dikalang bawah.
“Ya, ya, benar. Apa itu masa lalu, apa itu masa depan. Hari ini adalah hari ini, karena tidak tahu mungkin besok mati. Jangan banyak mimpi, tapi kenyataan hari ini,” sambung Citrasa kalangan bawah.
Ternyata kengawuran ada diposisi tingkat sosial dimana saja, diatas atau dibawah. Dan kalau kengawuran itu menjadi satu tentu bagi yang sehat jiwanya menjadi terasa seperti kiamat.
Dan kengawuran para Citraksi dan Citraksa bila sampai menjadi dewa. Akanlah dunia adalah kayayangan dan tidak mengenal kayangan sesungguhnya. Apakah itu sudah dirasakan dewasa ini. Bila melihat gerak-gerik kehidupan yang semakin absurd.***
(Oleh: Ibnu PS Megananda)
“Aku menyenangkan kalian. Percayalah pada aku. Karena aku dilahirkan untuk mengentaskan kesusahan kalian. Dan sudah dari sononya itulah aku. Jangan gak percaya akan takdir,” ucap Citraksi kalangan atas.
“Aneh kalau kalian tidak percaya takdir hidup,” sambung Citraksa kalangan atas.
Juga Citraksi-Citraksa kalangan bawah tidak kalah, menyembur-nyembur ingin selalu dapat dan puas apa yang diinginkan. Tidak perduli menyalahi aturan bahkan tata krama sosial.
“Yang kami inginkan mesti dapat, tidak masalah apa yang terjadi nantinya. Kami ingin seperti mereka yang diatas. Mereka bersuka-ria kami juga harus bersuka-ria. Karena kesenangan dunia tidak diperolah lagi setelah tidak ada dunia ini. Karena selama ini kami hidup susah,” kata Citraksi dikalang bawah.
“Ya, ya, benar. Apa itu masa lalu, apa itu masa depan. Hari ini adalah hari ini, karena tidak tahu mungkin besok mati. Jangan banyak mimpi, tapi kenyataan hari ini,” sambung Citrasa kalangan bawah.
Ternyata kengawuran ada diposisi tingkat sosial dimana saja, diatas atau dibawah. Dan kalau kengawuran itu menjadi satu tentu bagi yang sehat jiwanya menjadi terasa seperti kiamat.
Dan kengawuran para Citraksi dan Citraksa bila sampai menjadi dewa. Akanlah dunia adalah kayayangan dan tidak mengenal kayangan sesungguhnya. Apakah itu sudah dirasakan dewasa ini. Bila melihat gerak-gerik kehidupan yang semakin absurd.***
(Oleh: Ibnu PS Megananda)

