Para penipu merambah dunia maya media sosial (Medsos). Dengan nipu jarak jauh peluang lebih aman. Dan para penipu itu bermodalkan kelicikan tanpa ada rasa malu pada diri sendiri.
“Nipu itu ya ngapusi, sekarang ini banyak orang ngapusi pakai hp,” kata Nriman buka pembicaraan dengan Solehan.
“O ya….tapi aku pakai hp lama ga yang androit itu,” ujat Solehan.
“Jadul….coba ada nipu dengan memiripkan wajah dan suara orang si A untuk nipu orang keluarga atau teman si A tersebut,”
“Lha kok bisa,”
“Ya, melalui whatsaap atau wa. Ini harus hati-hati bila ada wa muncul, harus dicek benar itu si pulan,”
“Termasuk janji-janji orang yang ingin jadi pemimpin atau wakil rakyat itulah ya,”
“Ya, benar…,”.
Ternyata dunia nipu telah menyelimuti kehidupan. Ada yang tidak bisa hidup bila tidak menipu. Dilini apa saja, termasuk jual beli juga apa saja melalui medsos. Saat ini penipuan jual beli mobil merebak di medsos. Mereka seperti main sandiwara. Ada yang menawarkan, ada pembeli, ada pura-pura pegawai lelang.
Mereka mencari mangsa yang dianggapnya bisa, karena juru tawar diangga akrap dengan calon yang mau ditipu. Sehingga calon yang mau ditipu merasa tidak ada persoalan, dan mudah dibujuk untuk mengadakan uang. Karena suara mirip sehingga calon yang ditipu percaya. Dititik percaya itulah komplotan penipu itu separuh harapan tercapai.
“Komplotan penipu yang bermain sandiwara sekarang merasa punya lahan bebas yaitu medsos. Untuk itu hati-hati, biarpun itu yang ingin mengenalkan diri wanita sebagai meliter Amerika yang bertugas diluar. Itu hanya alat para penipu,” kata Nriman.
“O…begitu ya….bahayanya dunia medsos kalau tidak jeli,” ujar Solihan.
“Ya, mereka bisa nyamar sebagai orang China biar dianggap percaya pada calon yang ditipu,”
“Jadi ngomongnya juga berlogat China,”
“Benar….sampai disana komplotan penipu bersandiriwara. Hmm….hati-hati saja bila ada yang mengontak walau mengaku teman atau saudara, apa lagi yang ujung-ujungnya duit,”
Pemerhati sosial budaya dan politik, Ucu Gabriel mengimbau pada warga untuk berinteraksi di dunia maya. Dunia maya semakin maya dihadiri orang-orang yang berprilaku jelak dipelbagai lini kehidupan. Dari sosial, budaya, politik bahkan keagamaan.***
(Penulis: Ibnu PS Megananda)
“Nipu itu ya ngapusi, sekarang ini banyak orang ngapusi pakai hp,” kata Nriman buka pembicaraan dengan Solehan.
“O ya….tapi aku pakai hp lama ga yang androit itu,” ujat Solehan.
“Jadul….coba ada nipu dengan memiripkan wajah dan suara orang si A untuk nipu orang keluarga atau teman si A tersebut,”
“Lha kok bisa,”
“Ya, melalui whatsaap atau wa. Ini harus hati-hati bila ada wa muncul, harus dicek benar itu si pulan,”
“Termasuk janji-janji orang yang ingin jadi pemimpin atau wakil rakyat itulah ya,”
“Ya, benar…,”.
Ternyata dunia nipu telah menyelimuti kehidupan. Ada yang tidak bisa hidup bila tidak menipu. Dilini apa saja, termasuk jual beli juga apa saja melalui medsos. Saat ini penipuan jual beli mobil merebak di medsos. Mereka seperti main sandiwara. Ada yang menawarkan, ada pembeli, ada pura-pura pegawai lelang.
Mereka mencari mangsa yang dianggapnya bisa, karena juru tawar diangga akrap dengan calon yang mau ditipu. Sehingga calon yang mau ditipu merasa tidak ada persoalan, dan mudah dibujuk untuk mengadakan uang. Karena suara mirip sehingga calon yang ditipu percaya. Dititik percaya itulah komplotan penipu itu separuh harapan tercapai.
“Komplotan penipu yang bermain sandiwara sekarang merasa punya lahan bebas yaitu medsos. Untuk itu hati-hati, biarpun itu yang ingin mengenalkan diri wanita sebagai meliter Amerika yang bertugas diluar. Itu hanya alat para penipu,” kata Nriman.
“O…begitu ya….bahayanya dunia medsos kalau tidak jeli,” ujar Solihan.
“Ya, mereka bisa nyamar sebagai orang China biar dianggap percaya pada calon yang ditipu,”
“Jadi ngomongnya juga berlogat China,”
“Benar….sampai disana komplotan penipu bersandiriwara. Hmm….hati-hati saja bila ada yang mengontak walau mengaku teman atau saudara, apa lagi yang ujung-ujungnya duit,”
Pemerhati sosial budaya dan politik, Ucu Gabriel mengimbau pada warga untuk berinteraksi di dunia maya. Dunia maya semakin maya dihadiri orang-orang yang berprilaku jelak dipelbagai lini kehidupan. Dari sosial, budaya, politik bahkan keagamaan.***
(Penulis: Ibnu PS Megananda)

