“Kami ini punya leluhur yang terhormat. Kalian jangan bimbang dan ragu, kalian tahukan siapa kakek kami,” kata Citraksi ceramah didepan orang-orang dalam menghadapi akan terjadinya perang bratayuda.
“Kalau garis keturunan bapak, kakek, hingga keatas kami orang baik Kalian sangat beruntung bila berpihak pada kami. Dan kalian akan mendapat berkah dalam hidup ini di dunia maupun di akhirat,” sambung Citraksa.
Para hadirin manggut-manggut, yang tahu garis keturunan kedua tokoh itu senyum bahagia. Tapi ada juga yang mengkerutkan dahinya bukan masalah orang tua dan kakeknya mereka.
Namun akan prilaku mereka yang tidak sesuai pada bapak dan kakeknya. Bapaknya Prabu Destaresta raja yang baik, sedang kakeknya Resi atau Begawan Abiyasa. Seorang guru spiriual yang benar-benar sempurna keshalihannya.
Tapi Citraksi – Citraksa dan saudara lainnya yang mengaku keturunan Resi Wiyasa banyak yang dibilang sodrun, bangga, sombong, mentang-mentang, dumeh, dan seterus yang arahnya membanggakan diri dari keturunan orang mulia.
Sangat jauh berbeda dengan Pandawa yang juga keturunan dari Resi Abiyasa. Memuliakan leluhurnya dengan berbuatan dan bicara yang baik-baik. Tidak harus mengatakan kakekku orang mulia. Dan kalian kalau mendukung kami berarti kalian tergolong orang-orang mulia.
“Kalian jangan hawatir, apapun yang kami lakukan walaupun itu salah, tetap kami berada digolongan orang baik. Begitu pula bila kalian mau mengikuti kami, mendukung kami dan rela berkorban demi kami,” tegas Citraksi.
“Apa lagi nanti akan terjadi perang bratayuda. Jelas kalian bila gugur dalam peperangan itu kalian termasuk orang mulia yang langsung tempatnya di suwargaloka. Apa tidak mantab…,” ujar Citraksa.
“Perang itu biayanya besar, siapa yang tidak bisa ikut berperang secara fisik bisa menyumbangkan uang atau hartanya. Uang dan harta tidak akan sia-sia, sebab ini perang suci, semua akan diganti dengan kenikmatan suwargaloka. Yang lelaki akan mendapat bidadari-bidadari cantik, yang wanita akan dapat bidadara-bidadara tampan,” ujar Citraksi sambil cengengesan.
Akuur….. Semua soraksorai gemuruh. Orang-orang itu senang, seperti dapat impian yang nyata. Karena pada kematian nanti yang diharapkan tiada lain suwargaloka. Sehingga ucapan Citraksi – Citraksa semacam jawaban yang benar. Mereka seperti anak-anak sekolah menghadapi ujian akhir yang mendapat jawaban benar dan pasti dapat lulus. Meskipun ada juga yang gontai lemas saat meninggalkan tempat untuk pulang. Ingat pada dua tokoh itu yang tidak sesuai prilakunya dibanding dengan kakeknya. Citraksi – Citraksa memang keturunan asli tidak palsu, tapi itu soal darah. Namun soal prilaku sangat jauh karena hidupnya penuh dengan kepalsuan.***
(Esais, Ibnu PS Megananda)
“Kalau garis keturunan bapak, kakek, hingga keatas kami orang baik Kalian sangat beruntung bila berpihak pada kami. Dan kalian akan mendapat berkah dalam hidup ini di dunia maupun di akhirat,” sambung Citraksa.
Para hadirin manggut-manggut, yang tahu garis keturunan kedua tokoh itu senyum bahagia. Tapi ada juga yang mengkerutkan dahinya bukan masalah orang tua dan kakeknya mereka.
Namun akan prilaku mereka yang tidak sesuai pada bapak dan kakeknya. Bapaknya Prabu Destaresta raja yang baik, sedang kakeknya Resi atau Begawan Abiyasa. Seorang guru spiriual yang benar-benar sempurna keshalihannya.
Tapi Citraksi – Citraksa dan saudara lainnya yang mengaku keturunan Resi Wiyasa banyak yang dibilang sodrun, bangga, sombong, mentang-mentang, dumeh, dan seterus yang arahnya membanggakan diri dari keturunan orang mulia.
Sangat jauh berbeda dengan Pandawa yang juga keturunan dari Resi Abiyasa. Memuliakan leluhurnya dengan berbuatan dan bicara yang baik-baik. Tidak harus mengatakan kakekku orang mulia. Dan kalian kalau mendukung kami berarti kalian tergolong orang-orang mulia.
“Kalian jangan hawatir, apapun yang kami lakukan walaupun itu salah, tetap kami berada digolongan orang baik. Begitu pula bila kalian mau mengikuti kami, mendukung kami dan rela berkorban demi kami,” tegas Citraksi.
“Apa lagi nanti akan terjadi perang bratayuda. Jelas kalian bila gugur dalam peperangan itu kalian termasuk orang mulia yang langsung tempatnya di suwargaloka. Apa tidak mantab…,” ujar Citraksa.
“Perang itu biayanya besar, siapa yang tidak bisa ikut berperang secara fisik bisa menyumbangkan uang atau hartanya. Uang dan harta tidak akan sia-sia, sebab ini perang suci, semua akan diganti dengan kenikmatan suwargaloka. Yang lelaki akan mendapat bidadari-bidadari cantik, yang wanita akan dapat bidadara-bidadara tampan,” ujar Citraksi sambil cengengesan.
Akuur….. Semua soraksorai gemuruh. Orang-orang itu senang, seperti dapat impian yang nyata. Karena pada kematian nanti yang diharapkan tiada lain suwargaloka. Sehingga ucapan Citraksi – Citraksa semacam jawaban yang benar. Mereka seperti anak-anak sekolah menghadapi ujian akhir yang mendapat jawaban benar dan pasti dapat lulus. Meskipun ada juga yang gontai lemas saat meninggalkan tempat untuk pulang. Ingat pada dua tokoh itu yang tidak sesuai prilakunya dibanding dengan kakeknya. Citraksi – Citraksa memang keturunan asli tidak palsu, tapi itu soal darah. Namun soal prilaku sangat jauh karena hidupnya penuh dengan kepalsuan.***
(Esais, Ibnu PS Megananda)

