Sekitar pukul sepuluh pagi, ada ketukan pintu di kantorku. Ternyata Mas Sam (panggilan untuk Prof. Sam Abede Pareno). Waktu itu saya menjabat Ketua Program Doktor Ilmu Hukum di Untag Surabaya.
Tanpa basa-basi, sembari duduk, Mas Sam meminta saya menjadi Pembimbing Tesisnya untuk Magister Hukum. Ya, saya setujui. Hingga pada saatnya ujian tesis, Mas Sam lulus sebagai Magister Hukum.
Kurang lebih sebulan, Mas Sam datang lagi ke kantor. Saya pikir, akan melanjutkan tingkat doktoralnya. Tetapi tidak, sebaliknya, Mas Sam meminta saya untuk menjadi tokoh “Sunan Bonang” dalam naskah dramanya, yang telah dibuat. Tentu saja saya kaget, dan saya langsung menjawab, bahwa saya sudah tidak mampu lagi untuk menghafal naskah yang begitu panjangnya untuk peran itu.
“Dad,” katanya. Ia panggil saya dengan “Daddy” sebagaimana teman-teman mahasiswa lainnya. “Saya yakin Daddy bisa. Karena saya pernah melihat pementasan drama Oidipus di Kolonus, di mana Daddy jadi Oidipus-nya. Dipentaskan di Balai Budaya Jawa Timur, dan selama dua jam itu Daddy berada di panggung terus.”
“Itu dulu Mas, sekarang ini stamina saya tidak seperti dulu.”
“Ah, tidak! Anda pasti bisa.”
Dua minggu setelah itu, saya berharap kepada Mas Sam untuk memberikan sambutan, dalam “launching” buku saya berjudul “Anak Muda Meraih Mimpi-mimpi Indonesia”. Dan disetujuinya. Selesai acara, Mas Sam bilang: “Harus diterima lho permintaan saya. Naskahnya secepatnya akan saya kirim ke Daddy.” Di moment yang sama, saya cuma bisa mengangguk.
Tanpa hujan, tanpa angin, saya mendengar Mas Sam sakit. Tanpa badai, tanpa topan, Mas Sam telah meninggalkan kita. Ya, Mas Sam sebagai budayawan, pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) 1987-1991.
“Swargo langgeng Mas Sam”.***
Esai Soetanto Soepiadhy
Tanpa basa-basi, sembari duduk, Mas Sam meminta saya menjadi Pembimbing Tesisnya untuk Magister Hukum. Ya, saya setujui. Hingga pada saatnya ujian tesis, Mas Sam lulus sebagai Magister Hukum.
Kurang lebih sebulan, Mas Sam datang lagi ke kantor. Saya pikir, akan melanjutkan tingkat doktoralnya. Tetapi tidak, sebaliknya, Mas Sam meminta saya untuk menjadi tokoh “Sunan Bonang” dalam naskah dramanya, yang telah dibuat. Tentu saja saya kaget, dan saya langsung menjawab, bahwa saya sudah tidak mampu lagi untuk menghafal naskah yang begitu panjangnya untuk peran itu.
“Dad,” katanya. Ia panggil saya dengan “Daddy” sebagaimana teman-teman mahasiswa lainnya. “Saya yakin Daddy bisa. Karena saya pernah melihat pementasan drama Oidipus di Kolonus, di mana Daddy jadi Oidipus-nya. Dipentaskan di Balai Budaya Jawa Timur, dan selama dua jam itu Daddy berada di panggung terus.”
“Itu dulu Mas, sekarang ini stamina saya tidak seperti dulu.”
“Ah, tidak! Anda pasti bisa.”
Dua minggu setelah itu, saya berharap kepada Mas Sam untuk memberikan sambutan, dalam “launching” buku saya berjudul “Anak Muda Meraih Mimpi-mimpi Indonesia”. Dan disetujuinya. Selesai acara, Mas Sam bilang: “Harus diterima lho permintaan saya. Naskahnya secepatnya akan saya kirim ke Daddy.” Di moment yang sama, saya cuma bisa mengangguk.
Tanpa hujan, tanpa angin, saya mendengar Mas Sam sakit. Tanpa badai, tanpa topan, Mas Sam telah meninggalkan kita. Ya, Mas Sam sebagai budayawan, pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Surabaya (DKS) 1987-1991.
“Swargo langgeng Mas Sam”.***
Esai Soetanto Soepiadhy

